Kamis, 20 Oktober 2022
Jumat, 14 Oktober 2022
Jumat, 30 September 2022
Perbedaan karakteristik siswa
Setiap anak terlahir berbeda , tak ada manusia yg memiliki kesamaan persis dengan yang lainnya, bahkan pada saudara kembarpun pasti memiliki perbedaan diantara banyak kesamaannya.
Keunikan terlihat dari perbedaan-perbedaan tersebut.
karakter anak terbentuk dari interaksi dengan lingkungan, dengan kata lain, lingkungan berperan penting membentuk karakter setiap anak.
Jangan salahkan jika ada anak yg pendiam atau sebaliknya, ada yg hiperaktif.
Karena tidak ada yang salah dengan pribadi pendiam dan hiperaktif.
Anak-anak yang pendiam dan yang hiperaktif mereka memang berbeda dengan temannya dan perbedaan yang ada pada diri mereka adalah sebentuk cara Tuhan dalam mengabarkan kepada hambaNya bahwa ada manusia-manusia yang memiliki kepribadian unik.
Mereka membutuhkan pemahaman dan sikap positif dari lingkungan bahwa pendiam atau hiperaktif bukan sebuah kesalahan.
Einstain, Thomas alfa edison, Bill gates adalah segelincir manusia yang ketika kecilnya tergolong hiperaktif. Sejarah pada akhirnya mengakui peran besar mereka terhadap kemajuan peradaban.
Soe hok gie dan Ahmad Wahib menghabiskan masa remajanya dengan menikmati buku-buku sejarah dan sastra.
mereka berdua bergulat dengan kegalauan akan kondisi sosial yang tengah terjadi kala itu.
Hall itu tidak membuat mereka serta merta meratapi keadaan, tapi mereka tuangkan ide dan pemikiran-pemikiran mereka dalam sebentuk buku catatan harian.
Buku catatan itu sampai sekarang masih dibaca oleh masyarakat, khususnya di lingkungan akademisi dan menjadi literature di perpustakaan-perpustakaan baik sekolah maupun universitas.
Dengan karakter anak yang beraneka ragam, mereka masing-masing berusaha memahami kehidupan.
Dukunglah upaya mereka memaknai hidup dengan cara mereka masing-masing. Mereka butuh dukungan dan kepercayaan agar kepercayaan diri mereka terbangun.
Bukan sebaliknya terbenam oleh cacian dan makian yang setiap hari mereka terima.
Anak hiperaktif sering di judge dengan komentar-komentar negatif seperti
“dasar anak bodoh, begitu saja tidak bisa, bisa diam tidak.”
Pada akhirnya judgement itu perlahan tapi pasti begitu membekas dalam otak sang anak dan semakin menenggelamkan mereka pada jurang ketidakpercayaan diri, takut berimprofisasi.
Dan tanpa kita sadari, kita telah turut andil dalam membenamkan potensi anak dengan komentar-komentar dan penilaian negatif kita terhadap anak.
Saat membaca-baca buku tidak sengaja saya menemukan sebuah kutipan falsafah belajar efektif yang ditulis oleh Bobbi deporter.
Berikut falsafah keren yang ia tuliskan.
1. Kami percaya bahwa belajar adalah proyek sepanjang hayat yang dapat dilakukan orang dengan penuh ceria dan sukses.
2. Kami percaya bahwa keseluruhan kepribadian sangat penting; intelek, fisik dan emosi.
3. Kami percaya bahwa harga diri yang tinggi adalah unsur pokok dalam membentuk pelajar yang sehat dan bahagia.
Bobbi Deporter pun sepakat bahwa kepribadian yang ada dalam diri setiap anak memiliki peranan yang sangat penting bagi terbentuknya pribadi-pribadi yang unik dan luar biasa. Sekali lagi, yang anak-anak butuhkan bukan penghakiman dan komentar-komentar negatif terhadap cara dan sikap mereka merespon lingkungan melainkan dorongan, pemahaman dan kepercayaan bahwa mereka juga mampu untuk berkarya dengan cara mereka sendiri.
We live only a small part of life we are given.
So live meaningful and powerful to find your truth.
Loving, believing, and understanding.
Selasa, 27 September 2022
Herman Ady Purwanto
Herman Adi Purwanto
Itulah namamu
Aku menemukanmu di suatu masa
Saat dimana aku sedang tersesat
Dalam luka hati yang begitu mendalam
Kau datang tiba-tiba dan menghadirkan cerita cinta
Kau datang dengan sejuta harapan
Membuat aku terbuai angan-angan
Herman Adi Purwanto
Itulah namamu
Nama yang dulu tak pernah ada di hatiku
Namun kini
Nama itu selalu menghiasi malam-malamku
Nama yang selalu memenuhi relung hati terdalamku
Hingga tak ada celah tuk memikirkan nama yang lain
Herman Adi Purwanto
Kau tau rasa cinta dan sayang yang ada dalam hatiku untukmu
Laksana lembayung senja yang selalu merekah merona walau kadang senja tenggelam di ujung malam
Herman Adi Purwanto
Kau tau sampai saat ini
Kau masih saja sebuah misteri dalam hidupku
Andai kau tahu betapa aku ingin mengetahui semua hal tentangmu
Betapa aku ingin kau terbuka apapun padaku
Betapa ku ingin melihat sosok nyatamu
Betapa ku ingin setiap detik mendengar suaramu
Herman Adi Purwanto
Betapa kuingin bertanya pada bulan yang sedang bercahaya indah
Apakah rasaku dan rasamu sama adanya
Betapa kuingin bertanya pada sang bintang
Apakah cinta dan sayangmu memang benar adanya
Herman Adi Purwanto
Kau tahu
Setiap beribu pertanyaan ini muncul dibenakku
Aku hanya bisa menangis
Karena aku tahu jawaban ini begitu sulit kudapatkan
Entah rahasia apa yang kau simpan padaku
Hingga saat ini kau tak jua mau terbuka di depanku
Herman Adi Purwanto
Kau tahu
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
Keindahan Alam
Hanya sekedar ingin menikmati kembali
Suasana sejuk yang telah lama kurindui
Kurentangkan tanganku
Kuangkat kepalaku
Kuhirup udara sejuk yang mengalir indah di hidungku
Tenang dan senang yang ku rasa
Membuatku terbuai ke masa yang silam
Perlahan ku buka kedua bola mataku
Hamparan rumput memanjakan setiap mata yang memandang
Kicauan burung terdengar merdu
Membuat hatiku kian merindu
Indahnya alam ini membuatku terpaku
Membuat ragaku ingin kembali menyatu
Wahai Sang Pencipta Alam
Rasa kagumku sulit untuk kupendam
Membuat jiwaku meradang
Di setiap sudut mata memandang
Hanya keindahan yang terpampang
Keindahan alamnya begitu sempurna
Membuat sukmaku kembali terpana
Setiap orang pasti akan terkesima
Tanpa sadar akupun kembali merana
Melintasi sang cakrawala
Keindahan alam ini harus selalu dijaga
Agar kesejukannya tak akan pernah sirna
Gunungsari
27 September 2022
Kamis, 22 September 2022
ASAKU DI BALIK LAKUMU
![]() |
| SMAN 1 BATULAYAR |
Kurebahkan tubuh mungilku di atas kasur,
badanku seperti remuk redam setelah berkutat dengan segudang kegiatan latihan
dalam rangka menyambut kedatangan para tamu undangan di acara symposium guru
penggerak angkatan 2 kabupaten Lombok Barat.
Ku
hidupkan kipas angin yang berdiri tegak di sudut kamarku, kepalaku terasa
begitu berat, mataku pun sudah meminta belas kasih untuk dipejamkan. Baru saja
mata ini tertutup tiba-tiba gawaiku terdengar bergetar indah, ku lirik ada chat
WhatsApp yang masuk dari seseorang yang no hp nya tidak ku simpan. Belum sempat
ku baca ku lemparkan kembali hp ku kemudian aku memilih untuk memejamkan mataku
kembali. Entah berapa lama aku pulas tertidur, begitu ku buka mataku jam di
hpku sudah menunjukkan pukul 17.00 WITA, Aku langsung terloncat dari tempat
tidurku karena belum sholat ashar.
Setelah mandi dan sholat ku raih lagi
benda pipihku, ku buka chat demi chat yang masuk, mataku tertuju pada salah
satu chat yang tak kuketahui dari mana karena no nya no asing.
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakaatuh, ibu apa Khabar, apakah ibu masih mengingatku?.”bunyi
chatnya”
Karena
penasaran ku coba melihat foto profilnya tapi tetap saja memoriku tak mampu
mengingat siapa yang menghubungiku.
Mohon
maaf ibu gak inget siapa kamu."jawabku".
Tidak
lama kemudian dia membalas chatku, tapi kali ini balasannya berupa foto lama.
Aku terhenyak ternyata dia adalah siswaku zaman dulu, sudah lama sekali sekitar
dua belas tahun yang lalu, pantas saja aku tidak begitu mengingatnya.
Setelah
itu gak ada chat lagi yang masuk, aku kemudian kembali bercengkrama dengan
teman baikku yang selama ini selalu menemani hari-hariku yakni laptop putih
yang akhir-akhir ini sering mengalami gangguan.
Malam harinya aku sibuk mempersiapkan segala
perlengkapan untuk kebutuhan kemah. Aku dan beberapa temanku akan mengadakan
kemah di pantai Malimbu, segala perlengkapan aku siapkan dari sekarang karena
khawatir esok ada yang terlupa.
Pagi
buta, ketika sang mentari belum menampakkan sinarnya ku buka mataku, ku basuh
mukaku dan kusucikan diriku. Dalam sujud panjang ku kupasrahkan hidupku pada
sang pemilik takdir Allah Tuhan yang maha kuasa.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 09.00
pagi, segera ku anter si kecil ke rumah bibinya, aku memutuskan untuk tidak
membawanya ikut serta karena alasan keamanan.
Lokasi
perkemahan kali ini dekat dengan sebuah hotel berbintang lima, aku sempat
takjub memandang kemegahan hotel itu. Membayangkan betapa mahal jika harus
menginap di sana.
Bu
Um, ayo segera pasang tendanya."teriakan dari Bu Sari membuyarkan
hayalanku."
Ya
bentar aku mau bermain-main dulu dipinggir pantai mau
mandi."sahutku."
Pasang
dulu tendanya habis itu baru mandi pantai."ujar Bu Sari lagi."
Oke
kalau gitu."jawabku lagi."
Setelah
tenda terpasang aku mengajak Bu Anggi dan Bu Ulan untuk berkeliling menyusuri
keindahan pantai, kegiatan mandi aku tunda karena sepertinya cuaca begitu
terik, kala mentari mulai meninggi dan menampakkan pesona indahnya, terik
panasnya mulai terasa menyilaukan mata. Menit berlalu, tidak terasa sudah mulai
sore. Lembayung senja sudah menampakkan ronanya, agaknya dia sudah siap
mengantarkan senja kembali keperaduannya, aku berjalan santai dipinggir hotel
bintang lima.
Jujur
mataku tak jua mampu berhenti menatap keindahan bangunannya, bangunannya
bergaya Erofa namun tetap ada sentuhan Indonesianya.
"Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakaatuh, Ibu Bu guru Umi ya?". Tanya seorang pemuda
yang tiba-tiba meraih tanganku dan menciumnya.
Tentu
saja aku kaget bukan kepalang.
Masa
bu guru gak inget sama saya."ucapnya lagi."
Ku
perhatikan wajahnya, kulitnya begitu putih bersih lengkap dengan baju dan dasi
di lehernya.
Ya
Allah kamu Selamet ya." Ucapku setengah berteriak."
Ya
Bu saya Slamet, Alhamdulillah ternyata ibu masih mengingat saya.
Aku
hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini, Slamet adalah siswaku
dulu sekitar dua belas tahun yang lalu, dia yang dulu kumel, jarang mandi, di
kelas sering tertidur penampilannya acak-acakan tapi sekarang apa yang kulihat
dia berdiri dengan begitu gagahnya, kulitnya bersih penampilannya sangat rapi.
Kamu
kerja dimana sekarang?"tanyaku penasaran."
Aku
sekarang kerja di sini Bu guru, sekitar dua tahun yang lalu aku diangkat
menjadi manager hotel bintang lima di hotel ini. "Jawabnya."
MasyaAllah
selamat ya, ibu sangat senang mendengarnya."ucapku berkaca-kaca."
Bagaimana
mungkin aku tidak terharu, aku menyaksikan di depan mataku keberhasilan salah
seorang anak didik yang dulu sempat dipandang sebelah mata oleh beberapa oknum
guru dan teman-temannya.
Bertemu
dengan Selamet membuat memori dua belas tahun silam kembali menari-nari
dipelupuk mataku. Dua belas tahun yang lalu ketika aku masih ditugaskan di
sebuah sekolah kecil yang terletak tidak jauh dari bibir pantai tepatnya di
wilayah Batulayar….
Hari
ini rapat pembagian tugas, rapat dihadiri oleh seluruh dewan guru dan staf Tata
Usaha. Ku tatap SK pembagian tugas yang baru saja dibagikan, seperti biasa
setiap pembagian tugas aku selalu penasaran mengajar di kelas berapa dan
menjadi wali kelas untuk siswa kelas berapa.
Untuk
kesekian kalinya aku hanya terdiam memandangi SK itu, tahun ini untuk ke tiga
kalinya aku di berikan tugas menjadi wali kelas di kelas Jurusan Bahasa.
Aku
sempat mengacungkan tangan menanggapi keputusan sekolah ini, karena biasanya
setiap tahun wali kelas harusnya berganti atau roling agar siswa juga tidak
jenuh jika dipegang oleh wali kelas yang sama setiap tahunnya.
Namun
apa yang terjadi, ternyata tugas sebagai wali kelas tahun inipun tidak berganti
karena semua guru tidak ada yang mau ditugaskan untuk menjadi wali kelas di
kelas XII Jurusan Bahasa ini, bukan tanpa alasan mereka menolak, karena mau
tidak mau harus diakui pada kenyataannya kelas ini dihuni oleh murid yang luar
biasa, butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi setiap perilaku-perilaku yang
mereka lakukan dan tampakkan.
Jauh
dilubuk hati terdalamku sebenarnya aku ingin di tugaskan menjadi wali kelas di
kelas IPA karena sudah merasa sangat capek dan kewalahan menangani anak-anak
ini.
Berbagai
usaha dan pembinaan sudah dilakukan agar mereka semua mau berubah, tapi pada
kenyataannya harapan itu masih jauh dari kata berhasil.
Setelah rapat selesai aku memutuskan
menemui mereka di kelas, begitu memasuki kelas mereka, aku mengucapkan salam
yang kemudian di jawab dengan antusias oleh mereka. Mereka meluapkan
kegembiraan karena mereka tahu kalau tahun ini yang menjadi wali kelasnya adalah
aku lagi. Melihat kegembiraan mereka semua hatiku luluh kembali, sebenarnya
jumlah mereka tidak terlalu banyak hanya 7 orang siswa yang kesemuanya berjenis
kelamin laki-laki. Sebelumnya jumlah mereka ada delapan orang namun sangat
disayangkan salah satu dari mereka terpaksa berhenti sekolah karena ketiadaan
tranportasi untuk ke sekolah.
Ah
aku kembali teringat anak itu, Namanya Deni, nama lengkapnya Deni Sumarno di
kelas ini dia satu-satunya siswa yang berperilaku lebih sopandan lebih rajin
bila dibandingkan ke tujuh temannya.
Suatu
hari dia menghadap ke ruanganku dan mengatakan ingin berhenti sekolah dan
memutuskan untuk menjadi TKI di Malaysia agar bisa membeli motor untuk ke
sekolah. Aku sebagai wali kelas menanyakan kenapa tidak menggunakan bemo saja
ke sekolah, dia lalu menjawab bahwa bemo dirumahnya kadang lewat kadang tidak.
Deni
tinggal bersama neneknya setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai.
Saat ini kedua orang tuanya sudah menikah dengan pasangannya masing-masing dan
yang membuatku miris sebenarnya masih ada motor bapaknya yang tidak terpakai
tapi bapaknya tidak memberikan izin untuk dipakai oleh Deni.
Pernah
suatu hari aku dan guru BK pergi home visit ke rumah neneknya, kami disambut
dengan sikap dingin oleh keluarganya, hanya neneknya yang bersikap baik
terhadap kami.
Bibinya
gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba mengeluarkan unek-uneknya dan
terus-menerus mengeluhkan sikap orang tua Deni yang tidak mau peduli dan lepas
tanggung jawab dari anaknya. Saat itu Deni hanya tertunduk sedih, neneknya juga
nampak mengeluarkan air mata. Saat kami sedang asyik mendengar keluh kesah
bibinya tiba-tiba ibu kandung Deni lewat, melihat kedatangan kami, dia bukannya
berhenti dan menyapa malah segera berlalu sambil mempercepat laju motornya.
Aku
hanya bisa mengelus dada melihat perilaku ibunya.
Suatu hari saat itu pelajaran matematika,
seperti biasa ketika anak-anak dalam kondisi kelas kosong pasti yang pertama
kali dicari adalah aku selaku wali kelas.
Aku
mencari mereka ke semua sudut sekolah, tidak tampak satupun batang hidung
mereka sampai akhirnya mataku tertuju pada musholla. Nampaknya mereka
bersembunyi di sana, ku tengok di jendela ternyata memang benar mereka semua
bersembunyi di sana, menyadari kehadiranku bukannya langsung menuju kelas mereka
malah menutup muka mereka sambil meneruskan tertidur.
Ku
perintahkan mereka untuk memasuki kelas karena gurunya sudah lama menunggu,
dengan cara halus tak jua berhasil, kesabaranku benar-benar diuji akhirnya
dengan emosi aku ambil pot bunga yang berada di samping mushola lalu ku angkat
sambil berteriak ke arah mereka. Mereka lari terbirit-birit menuju ke arah
kelas, sementara itu guru matematika sudah tidak mau mengajar karena kesal
terlalu lama menunggu. Akhirnya kuputuskan aku yang mengisi.
Sambil
menahan emosi aku bertanya."apa kalian tidak malu sudah kelas tiga tapi
perilaku kalian melebihi anak-anak TK,
Apa
kalian tidak malu sikap kalian telah melukai dan menyinggung perasaan guru-guru
kalian.
Apa
kalian tidak memikirkan perasaan ibu sebagai wali kelas kalian, bagaimana
malunya ibu dianggap tidak becus mengurus kalian?
Atau
kalian bosan ibu menjadi wali kelas kalian??
Pertanyaan
demi pertanyaan ku lontarkan sambil menahan air mata yang sedari tadi ingin
menetes di pelupuk mataku.
Mereka
semua hanya terdiam, tidak ada satupun yang berani menjawab. Semua menunduk,
sampai tiba pada pertanyaan Terakhir.
Atau
kalian mau wali kelas kalian diganti?"kataku setengah berteriak."
Dalam
sekejap semua menjawab." Jangan ibu, jangan di ganti selama ini hanya ibu
yang sayang sama kami, hanya ibu yang mau peduli dengan kami, hanya ibu yang
menganggap kami ada."
Ku
lihat mereka semua menangis, aku yang memang sedari tadi ingin menangis tak
kuasa menahan tangis juga.
Aku
lalu menasehati mereka semua dan menegaskan bahwa semua guru menyayangi mereka,
semua guru peduli sama mereka, semua guru menganggap mereka ada, mungkin hanya
caranya yang berbeda.
Kami
lalu berpelukan dan mereka berjanji mulai hari ini akan mengubah perilaku
mereka.
Ubaidillah yang keseharian di kelas selalu
berpenampilan kusut suka mengedipkan mata dan menggoda gurunya, Selamet yang
suka cengengesan tapi pandai bahasa Inggris, Robi yang pendiam tapi disiplin
mengumpulkan tugas, Zulyadaeni yang satu bulan hanya masuk sekolah beberapa
hari saja karena harus bekerja membantu orang tua di Bengkel, Tomi yang hobi
menggambar, Si Faesal yang selalu izin ke belakang setiap gurunya memasuki
kelas tapi pandai bermusik, Si Fatih yang pandai berbahasa Arab dan suka
berceramah di depan kelas, dan Si Rizal yang hobi bercerita.
Wajah
mereka dan kebiasaan -kebiasaan mereka selama sekolah dulu mulai memenuhi
pelupuk mata dan ingatanku.
Aku
seperti di bawa ke masa lalu, masa belasan tahun silam
Ada satu kisah yang membuatku terharu,
kebiasaan di sekolah kami setiap hari ulang tahun guru akan diadakan lomba
merias kelas oleh pihak sekolah.
Untuk
diketahui selama sekolah ini berdiri setiap ulang tahun guru, hanya kelas
bahasa yang tidak pernah ikut berpartisipasi dalam lomba menghias kelas. Tiap
kali kelas lain sibuk mempersiapkan lomba menghias kelas mereka hanya menonton
tanpa ada sedikitpun tergerak untuk ikut berpartisipasi sebagai bentuk hormat
pada guru mereka. Selain karena rata-rata berasal dari keluarga yang berlatar
belakang ekonomi menengah ke bawah, niat dalam diri mereka tidak ada untuk ikut
kegiatan ini.
Tahun
ini aku bertekad mengajak siswa binaanku untuk mengikuti lomba menghias kelas,
bukan tujuan untuk menjadi juara tapi semata-mata sebagai bentuk penghargaan
anak-anak terhadap guru-guru yang selama ini sudah berjasa dalam kehidupan
mereka.
Ketika
hal ini kuutarakan pada mereka, aku tidak pernah menyangka ternyata mereka
antusias untuk mengikuti kegiatan ini. Mereka mulai urunan untuk membeli segala
perlengkapan yang dibutuhkan, sekedar diketahui anak-anak binaanku adalah
anak-anak yang kurang mampu rata-rata ekonomi orang tua mereka menengah ke
bawah. Mereka urunan ala kadarnya, di saat teman-temannya di kelas lain mampu
membeli kue ulang tahun yang mahal, mereka hanya mampu membeli kue donat yang kemudian
di susun lalu menaruh lilin di atasnya. Aku sangat terharu atas semangat mereka
di tengah keterbatasan yang mereka miliki.
Hari yang dinanti-nantikan itupun tiba,
seperti biasa semua guru akan berkeliling sambil mencicipi makanan yang
disuguhkan anak-anak seraya menikmati acara yang disuguhkan mereka. Hingga
tibalah mereka semua di kelas XII Bahasa, awalnya mereka melewati kelas itu
karena mengira anak-anak tidak berpartisipasi seperti biasanya, namun tidak
beberapa lama anak-anak keluar dari kelas kemudian menyambut kedatangan
guru-gurunya sambil membawakan lagu selamat ulang tahun. Hampir semua guru
terkejut dan bahagia melihat kejadian itu, mereka tidak pernah menyangka
anak-anak ini akan mempersiapkan acara dengan antusias di tengah kesederhanaan
yang mereka miliki. Ketika acara sambutan untuk wali kelas disampaikan oleh
salah satu perwakilan, aku sangat terharu dan hampir menangis'.
Bu
Umi wali kelas kami yang tersayang, kami mohon maaf jika selama ini terlalu
banyak membuat Bu umi sedih, kami mohon maaf karena telah banyak merepotkan Bu
Umi.
Bu
Umi Bu guru kami tersayang, mulai saat ini kami berjanji akan menjadi anak yang
baik dan penurut, kami berjanji untuk tidak nakal lagi
Untuk
bapak ibu guru kami tercinta maafkanlah kesalahan-kesalahan yang sudah kami
lakukan.
Kata-kata
sambutan yang dilontarkan cukup membuat kami semua terharu, aku sendiri
menitikkan air mata. Betapa jauh dilubuk hatiku aku begitu menyayangi mereka
semua.
Esok pagi hari Minggu yang cerah aku dan
anak-anak binaanku berjanji untuk rekreasi ke pantai. Tepatnya di pantai
Malimbu, suasana pantai begitu indah dan menyejukkan, kami lalu duduk
bersama-sama, satu persatu mereka bercerita kondisi yang mereka alami selama
ini, mulai dari keluarga sampai lingkungan sekitarnya.
Ku
dengarkan dengan penuh perhatian setiap cerita yang mengalir di bibir mereka.
Mulai dari Najibullah yang hidup sebatang kara yang terpaksa tinggal menumpang
dirumah pamannya, dan untuk membiayai sekolahnya setiap pulang sekolah dia
bekerja membantu nelayan menangkap ikan. Dilanjutkan Zulyadaeni yang harus
banting tulang membantu kedua orangnya mencari nafkah dengan membuka bengkel
kecil-kecilan.
Hampir
semua anak-anak binaanku merupakan anak-anak yang tidak seberuntung anak-anak
yang lain. Untuk bisa sekolah mereka harus berjuang seberat itu, mereka butuh
dirangkul, disayang dan dicintai.
Oya
Bu bagaimana kalau hasil kerja kami, sebagian kami sisihkan untuk di tabung,
kami titip uang kami di ibu agar nanti kalau mau bayar SPP atau keperluan lain
kami tidak kesulitan." Salah satu dari mereka memberikan usulan yang tak
terduga."
Ya
Bu saya setuju."ucap Robi."
Dari
pada uang hasil kerja keras kami setiap bulannya habis begitu saja mending kita
tabung sama Bu guru." Sambung yang lainnya."
Akhirnya
mulai saat itu anak-anak binaanku menitipkan sebagian hasil kerja mereka untuk
ditabung, ketika pengumuman kelulusan, selain mendapatkan khabar gembira
kelulusan, mereka juga sangat gembira karena hari ini aku akan membagikan uang
hasil tabungan mereka.
Umeeekk..panggilan
dari salah satu temanku membuyarkan lamunanku.
Eh
ya ya." Ngelamun aja" katanya sambil menepuk pundak ku.
Ya
ni, eh ini muridku dulu kataku sambil memperkenalkan Selamet, dia manager di
hotel itu. Ucapku sambil menunjuk hotel yang berdiri megah tidak jauh dari kami.
Oya
Selamet bagaimana khabar teman-temanmu yang lain?"
Tanyaku
penasaran."
Alhamdulillah
Bu rata-rata sukses semua."jawabnya."
Zulyadaeni
Sekarang sudah memiliki bengkel lumayan besar di daerah Senggigi, Rizal sekarang sudah menjadi guru sejarah, Tomi guru seni budaya, Faesal kerja di
cafe, Fatih kerja di Arab sebagai imam masjid Bu. Kalau Robi saya kurang tahu
khabarnya bagaimana.
Oya
Bu kalau ibu mau bermalam di hotel silahkan bu gratis buat ibu.
Sebenarnya
aku sangat senang dengan tawaran itu tapi aku juga tidak enak hati, aku
menolaknya dengan halus.
Gak
usah nak lain kali aja ya." Tolakku halus."
Kalau
begitu saya pamit dulu ya Bu, ada tamu hotel yang harus saya urus, nanti saya
mau menghubungi teman-teman agar membuat rencana reuni dengan ibu, InsyaAllah
nanti reuninya di hotel ini."ucap Selamet sambil bersalaman mencium
tanganku."
Ya
nak ibu tunggu undangannya ya."ucapku terharu."
Siap
ibu. " Ucap Selamet lagi."
Selamet
berlalu dari hadapanku, setelah punggungnya tak nampak lagi, aku menyandarkan
kepalaku di pohon kelapa yang berjejer indah di pinggir pantai.
Entah
apa yang kurasakan saat ini, yang jelas perasaan bahagia menyelimuti jiwaku.
Tidak ada yang lebih membahagiakan dan membanggakan dari seorang guru selain
kesuksesan murid-muridnya.
Benar
apa yang dikatakan oleh tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara" tugas kita
sebagai pendidik adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar
mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Anak-anakku
sesungguhnya ada asa terpendam direlung hati terdalamku disetiap melihat
tingkah lakumu dulu …
TANYA TAK TERSELAMI
Mencoba tuk mengerti dan memahami
Atas pertanyaan yang tak mampu diselami
Mencoba bertanya pada semesta yang disinggahi
Kenapa mereka tak jua mau terinsafi
Entah berapa purnama terlalui
Bangunan ini masih saja seperti ini
Tak terjamah hanya sisa puing yang membanjiri
Karena kedurjanaan sang makhluk tak tahu diri
Wajah-wajah generasi bangsa kadang mengusik diri
Mata penuh pengharapan akan bangunan yang segera berdiri
Kadang tanya mereka membuat hati
Tak mampu menahan diri tuk bersembunyi
Dari segala gundah yang menghampiri
Semangat dan tingkah lincah mereka
Mampu menaungi hati yang kadang dilanda
Panasnya mentari
Semangat kau dan aku tak jua terkelabui
Walau godaan rindangnya pohon merindui
Aku ada diantara mereka yang tanpa sadar terzolimi
Oleh ketidakpastian nasib di kemudian hari
Semoga semesta memihak kepada kami
Demi terwujudnya generasi sesuai mimpi
Agar kelak mampu berdiri
Walau di tengah keterbatasan yang dilalui
Mataram
21 September 2022
Rabu, 21 September 2022
Hujan
Kumohon berhentilah sejenak
Airmu terlalu banyak tercurah
Membuat tubuhku kian layu terhimpit kedinginan
Hujan
Usaikanlah
Sejukmu sudah cukup kurasa
Aku menginginkan kehangatan
Agar tubuhku tak kusut oleh pelukan awan yang semakin kelam
Hujan
Berderailah dengan pelan
Jangan luapkan amarahmu dengan begitu menghentak
Di sekelilingku dibanjiri oleh curahan airmu
Membuatku terkungkung tak mampu tuk bergerak
Hujan
Berlalulah sejenak saja
Hadirmu menghadirkan begitu banyak rindu
Hujan
Menepilah walau sesaat
Hadirmu menghadirkan begitu banyak kesyahduan
Hujan
Ingatlah aku hanya ingin kau berlalu sesaat
Bukan selamanya
Karena aku kan selalu menghadirkan kehadiranmu
Karena kesejukanmu takkan pernah berhenti untuk kurindukan
Lombok Barat
21 September 2022
Selasa, 13 September 2022
Gelora Asmara
Kala gelora asmara yang dulu redup
membara kembali
Hasrat menggebu bangkit lagi
Jiwaku dan jiwamu selalu bernyanyi
Mendendangkan lagu yang menghanyutkan hati
Wajahmu setiap saat membayangi
Ingin selalu memeluk erat walau jarak menghakimi
Kita seolah hanyut dalam lautan rindu yang menggebu
Berpeluh desah mengiring kalbu
Hatiku bergetar indah bertalu-talu
Setiap sapamu menerpa di telingaku
Andai semesta mempertemukan kamu dan aku
Betapa bahagianya hidupku
Rintangan dan hambatan pada cinta kita dulu
Takkan mampu memisahkan rasa yang kujaga untukmu selalu
Sayangku datanglah dan rengkuhlah aku
Kita berpacu dalam lautan rindu
Asmaraku dan asmaramu semoga bermekaran selalu
Doaku suatu saat kau dan aku kan menjadi satu
Lombok Barat
14 September 2022
Senin, 12 September 2022
FASE HIDUP
Waktu itu saat pelantikan Pramuka, pada saat acara jurit malam di tengah malam buta aku memutuskan untuk ikut serta menemani para panitia sambil berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke arah perbukitan.
Saat melewati pasar Gunungsari yang baru kami memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu beberapa peserta yang masih tertinggal di belakang.
Aku terduduk di atas batu besar yang kebetulan berada di pinggir jalan, sayup-sayup terdengar suara jangkrik malam yang mampu mnemeriah suasana yang begitu sunyi karena kepekatan malam.
Cuaca yang mendung sejak pagi tadi membuat udara malam terasa dingin menusuk tulang putihku.
Suara azan berkumandang memanggil semesta untuk sholat tahajud terdengar begitu menyentuh di hati, ku pandangi pemandangan di depan mataku. Kondisi pasar yang masih sangat tradisional dan terlihat sampah yang berserakan tak menyurutkan mataku untuk menatapnya.
Sinar rembulan membantu menyinari suasana malam itu, di saat para panitia asyik bercanda sambil sesekali terdengar suara cekikan mereka aku justru asyik dengan dunia khayalku sendiri.
Ah aku tidak pernah menyangka akan ada di fase ini.
Dulu kehidupanku hanya berfokus untuk urusan rumah tangga, aku keluar hanya pada saat jam mengajar saja tidak ada satupun acara di luar mengajar yang bisa aku ikuti, pengembangan diripun tidak aku lakukan karena rasa ketaatan atas larangan sang imam waktu itu.
Tapi jujur semuanya tidak pernah kusesali, aku ingat dengan betul dulu ketika pasar Gunungsari belum berpindah ke sini setiap mengantar anakku yang sulung yang pada saat itu masih SD aku selalu mampir di pasar untuk sarapan.
Nasi dan lauknya sangat sederhana menggunakan daun pisang sebagai piring, Rasa nasi dan lauknya tiada bandingnya sampai sekarang, penjualnya merupakan seorang wanita tua yang walaupun tubuhnya sangat mungil tapi sangat cekatan dalam melayani para pembeli. Aku tidak pernah makan hanya sekali, aku selalu nambah setiap sarapan di sana dan ketika pulang tidak lupa aku bungkuskan untuk imamku karena kebetulan dia juga sangat menyukainya.
Setiap aku mendatangi lapaknya wanita tua dengan sangat ramah akan menyapaku, senyum khasnya masih aku ingat. Saat ini beliau sudah tiada, beliau meninggal tepat setelah 40 hari gempa melanda Lombok.
Gempa yang melanda Lombok bulan Agustus 2018 lalu mengubah seluruh perjalanan hidupku, dimulai dengan kepergian mertuaku saat mengungsi ke bukit bersamaku, kehilangan rumah bahkan kehilangan separuh jiwaku.
Aku menjalani hidupku dalam kesedihan yang begitu mendalam, pengkhianatan janji suci, sikap tertutup keluarga besar imamku, kondisi pasca melahirkan dan berbagai tekanan hidup membuat tubuhku seperti terbungkus tulang belulang. Aku berada di fase yang cukup berat dalam hidupku kekuatanku saat itu hanya kedua anakku, hanya mereka berdua yang membuatku mampu menopang kakiku untuk terus berdiri.
Kepergian ibu mertuaku sangat menyayat batinku namun aku berusaha untuk mengikhlaskannya, aku selalu terkenang semua kebaikannya, bagaimana dia merawatku dari aku hamil sampai melahirkan.
Kehilangannya membuat luka yang dulu ada karena kehilangan bapak dan nenekku menganga kembali bahkan ini kurasakan lebih perih lagi karena dibarengi dengan pengkhianatan imamku.
Di saat rasa percaya diri mulai memudar, gairah hidup tak terpancar lagi aku kembali dihadapkan oleh sikap remeh dan merendahkan dari mereka-mereka yang merasa jauh lebih hebat dariku bahkan dari orang-orang sekitarnya. Aku memang mengakui bukanlah seorang yang memiliki kelebihan seperti mereka, sikap merendahkan mereka membuatku termotivasi untuk belajar dan memperbaiki diri. Aku mulai belajar semua hal, di saat rasa hancur itu mulai menyapa aku hempaskan dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif. Lambat laun aku mulai merasakan perubahan dalam diriku, kepercayaan diri yang dulu sempat menghilang mulai mendekap kembali dan keberuntungan sepertinya mulai berpihak padaku, dimulai pada tahun 2021 dengan kelulusan disemua tahap seleksi Calon Guru Penggerak, terpilih sebagai motivator Literasi se-Indonesia, menjadi narasumber di RRI serta terbitnya beberapa buku hasil karya sendiri. Pada saat yang bersamaan aku juga terpanggil untuk mengikuti PPG kegiatan yang sudah berpuluh-puluh aku nanti-nantikan.
Menjalani dua kegiatan berat sekaligus tentu bukan perkara mudah, ada banyak yang dikorbankan mulai dari waktu istirahat serta yang lain-lainnya.
Namun Alhamdulillah dengan tekad dan rasa tanggungjawab yang begitu besar aku berhasil menyelesaikan dua kegiatan itu pada bulan Desember 2021.
Bersambung
Minggu, 11 September 2022
Praktikum Es Cream Tanpa Freezer
Pada hari senin tanggal 5 september 2022 kami kelas XII MIPA melaksanakan praktikum sederhana
alhamdulillah semua berjalan lancar
Training ESQ Peduli Pendidikan NTB
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan saya dengan kesempatan berharga untuk mengikuti kegia...
-
Aruna Senggigi Disinilah kisah itu dimulai Kisah perjumpaan antara kamu dan aku Momen itu mempertemukanku denganmu Aku yang sudah terbiasa ...
-
MALAM Hai malam Kau tahu Sejujurnya aku selalu merasa takut berjumpa denganmu Kenapa Karena disetiap perjumpaan denganmu Ada rasa sep...


.jpeg)




